Cinta SOLID Bertepuk Sebelah Tangan

No comment 323 views

Layaknya sepasang kekasih yang kecantol cinta, mereka saling mengasihi dan berikrar se iya sekata untuk menjaga keutuhan hubungan dan merawat kebersamaan yang erat, hingga sampai kepelaminan nantinya.

Seperti itulah janji kedua belah pihak untuk menjalankan sebuah mega proyek pemberdayaan yang baru saja tamat di ujung tahun 2018 silam.

Ketika Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian RI mendaulat Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menjadi sebuah daerah sasaran dari program yang beranama SOLID atau Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK) tahun 2011 silam, disitulah ijab kabul pun dilakukan.

Ya, memorandum of understanding (MoU) antara Bupati SBT dengan pihak pelaksana program SOLID di pusat. Kedua pihak sepakat akan menjalankan program pemberdayaan dengan intervensi miliaran rupiah. SBT dan empat kabupaten lainnya di Maluku menjadi pilot project. Salah satu poin dari kesepakatan itu yakni adanya intervensi pemerintah daerah berupa sharing APBD sebesar 10 persen untuk memperkuat alokasi anggaran dari SOLID.

Sebagai orang awam, mungkin hanya segitu pemahaman yang terbangun di benak. Padahal, MoU itu, seyogianya adalah sebuah janji yang mengikat pemerintah daerah bukan saja diawal pelaksnaan program, tapi juga pasca program berakhir. Tentunya, akan ada take over kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang menjadi sasaran program SOLID di akhir program.

Tapi apa yang terjadi saat ini? Mega proyek SOLID itu sudah berakhir. Dan dugaan akan akhir dari cerita cinta SOLID ini memang sudah bisa diterka sejak awal, dimana prilaku sang ‘kekasih’ dalam hal ini pemerintah daerah yang kurang konsisten dengan janji itu.

Padahal, secara hirarki pemerintah daerah yang menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah pusat wajib hukumnya mempertahankan apa yang sudah dilakukan selama ini. Dan tentunya saat ini cinta SOLID “bertepuk sebelah tangan”.

Musabab, dari semua ini tak lain adalah intervensi SOLID yang sudah berakhir tidak mendapat sambutan yang baik dari pemerintah daerah. Padahal, hasil ijab kabul yang dilakukan 8 tahun lalu, sudah melahirkan sebuah kondisi dan konsep yang selama ini didambakan setiap orang.

SOLID membuka jalan, menyulam koyaknya pola pikir petani yang komsumtif menjadi selendang inovatif, menggali potensi daerah yang terpendam menjadi harapan yang menjanjikan, bahkan mampu merubah mitos menjadi kenyataan. Walhasil, 19 desa binaan dan sasaran terbentuk dan sebagian dari jumlah itu bergeliat dengan produk unggulan skala rumahan.

Lewat intervensi, edukasi dan empowerment yang dijalankan selama 8 tahun itu pula, maka kini kita kenal minyak Namalena (Minlen), Tepung Sagu Ratu Andan, Kacang Botol Wai Solang, Coklat bubuk Jembatan Basah, Sirup Pala Tunil, Ikan Julung Sakawail, Ikan Garam dan Abon Karya Mandiri dari Kilwaru.

Sejumlah produk olahan ini sempat menjadi perhatian pelaksana SOLID pusat. Mereka kemudian memberikan respon dan reward atas prestasi yang sudah diraih pelaksana SOLID Kabupaten SBT yang tak lain adalah anak –anak SBT sendiri.

Respon atas keberhasilan itu pun ditunjukkan dengan kunjungan Tim Supervisi dari International Fund for Agricultural Development (IFAD) sebagai funding program SOLID. Mereka datang tiga kali ke kota Bula dan menyelami kemajuan yang ditorehkan manajeman SOLID SBT.

Wajah-wajah produk olahan ini dibuat mentereng dalam berbagai kemasan, dan kerap tampil di etalase-etalase pemeran baik lokal maupun skala nasional. Terakhir kabarnya, produk yang sama juga tampil di pameran Hari Pangan Sedunia.

Lalu apa yang terjadi saat ini? Ironisnya, bukan saja cinta SOLID ‘bertepuk sebelah tangan’, tapi lebih dari itu ada yang kemudian mencari ‘kambing hitang’ dari kondisi yang kian berubah pasca intervensi program SOLID berakhir.

Minlen redup dari pasaran, tak mampu melakukan ekspansi pasar lebih luas, berbau tengik dan bla..bla…bla…kondisi desa A yang hilang perhatian karena telah ‘tutup usia’ program SOLID, semua mata kemudia tertuju kepada anak-anak daerah berprestasi itu.

Sungguh menjadi sebuah keniscayaan bahwa setiap program pemberdayaan tidak pernah digagas atau dikonsepkan menjadi program gagal. Mereka yang terlatih sekalipun, lebih awal sudah memvonis kedepan akan ada kegagalan dan keberhasilan dari setiap program berkonsep pemberdayaan itu. Jadi semua hanya soal musabab saja.

Dan itulah yang terjadi di Kabupaten SBT, mega program pemberdayaan itu telah melahirkan sejumlah gagasan dan inovasi yang berliant, tapi kini kering perhatian, karena mandulnya intervensi OPD terkait yang berkewajiban meng-take over kelanjutan apa yang sudah dicapai. Sungguh ini sebuah prahara seperti ‘anak ayam kehilangan induknya’.

Harusnya, pemerintah daerah melalui OPD terkait wajib hukumnya meng-up-grade kembali semangat membangun yang sudah diukir pelaksana SOLID Kabupaten SBT. Misal saja, Dinas Perindustrian, Perdangan dan Koperasi wajib melakukan pembobotan dari sisi produksi hingga pemasaran. Begitu juga Dinas Kesehatan wajib menelaah soal higenisnya produk yang sudah terlanjur diberi izin itu.

Jangan biarkan cinta SOLID ‘bertepuk sebelah tangan’. Apalagi hal ini juga sangat berkait erat dengan visi dan misi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati SBT yang dikomandangkan beberapa tahun lalu, bahwa akan ada pembukaan sebanyak 5000 lapangan kerja. Tentunya, lewat warisan SOLID inilah capaian itu dapat diperoleh.
Sebab, tanpa adanya kemandirian maka suatu bentuk partisipasi masyarakat itu tidak lain hanya sebuah mobilisasi belaka. Dalam tataran konseptual pemberdayaan terkait erat dengan proses tranformasi sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Semoga catatan ini dapat menjadi pemantik untuk kembali melihat wajah eks desa binaan SOLID yang mulai redup itu. Wassalam..

By. dhino pattisahusiwa

Sumber : https://www.facebook.com/groups/737617456373977/permalink/1483719605097088/

author

Leave a reply "Cinta SOLID Bertepuk Sebelah Tangan"